Sunday, 17 January 2010

10 sunnats that we should bring alive

The rewards of practicing sunnah of Rasulullah is so abundant, one just cannot imagine the rewards Allah Ta’ala has kept in store for the one who adheres strictly to the sunnah. The greatest reward one will receive for adopting the sunnah practices of Rasulullah is that we will acquire the love of Allah Ta’ala and He will forgive our sins. Listed hereunder are 10 easy sunnats with the rewards mentioned in the Hadith for us to bring alive this year. May Allah Ta’ala allow us all to live in accordance with the sunnah of our beloved Rasulullah .

1. To recite Bismillah wal Hamdulillah before commencing wudhu.
> Rasulullah has mentioned that a person who recites this dua before making wudhu, the Angels continue writing down rewards for him as long as he remains in the state of wudhu.

2. Using of the Miswaak before wudhu.
> Rasulullah has said that the miswaak cleans the mouth and pleases our Rabb (Allah Ta’ala).
> Rasulullah has said that a person who makes miswaak before making wudhu and performs two rakaats salaah is better than that person who performs 70 rakaats salaah without making miswaak.
> It will enable one to recite the Kalimah Shahaadah at the time of death.
> More than 70 benefits of using the miswaak have been listed.

3. To recite the following dua after wudhu:
اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اِلله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
> The eight doors of Jannah are opened for the one who recites this dua and he will have the choice of entering from whichever door he wishes.

4. To sleep with wudhu.
> Rasulullah has said that a person who makes wudhu before sleeping and passes away in this condition, is elevated to the rank of a martyr (Shaheed).
> Rasulullah has said that a person who makes wudhu and then goes to sleep, his rooh ascends to the arsh (throne) of Allah Ta’ala and remains in sajdah for as long as he is asleep.

5. To go walking to the Masjid for salaah.
> Rasulullah has mentioned that a person who makes wudhu at home and then goes walking to the masjid to fulfill a Fardh Salaah, for every step that he takes towards the masjid, one sin will be forgiven, and he will be raised up one stage higher in Jannah.
> When he performs his salaah, the Angels continue making dua for him as long as he is in the Masjid, “O Allah, have mercy upon him, O Allah send your special salutations upon him.”
> Rasulullah has said that a person who goes walking to the masjid in the morning or evening, Allah Ta’ala prepares for him an abode in Jannah every time he goes out (for salaah).

6. Performing salaah in the first Saff.
> The first saff is like the saff of the malaaikah.
> Rasulullah said, “If only you knew the reward of sitting in the first saff, you would have had to draw lots.”
> Rasulullah said, “If only you knew the virtue of the first saff, you would race with one another in order to get there first.”

7. To recite Tasbeeh-e-Faatimi (33 times subhaan Allah, 33 times Al-hamdulillah and 34 times Allahu Akbar) after every Fardh salaah and at the time of going to bed.
> Once the poor Muhaajireen came to Rasulullah and complained that they were unable to compete with the wealthy Sahaabah because the wealthy Sahaabah gave Sadaqah and freed slaves, both of which they could not do. Rasulullah said to them, “Should I not teach you something which will allow you to reach those who have surpassed you and it will allow those who are behind you to surpass you. There will be no one who will be more virtuous than you except for those who practice upon this.” They said, “Yes, O Rasulullah .” Rasulullah then said, “Recite tasbeeh 33 times, tahmeed [Al-hamdulillah] 33 times and takbeer 34 times after every salaah.”
> All ones sins are forgiven, even if they are equal to the foam of the ocean.
> For every subhanallah that one will recite, Allah Ta’ala will plant a tree in Jannah for that person.

8. To recite durood shareef 1000 times on a Friday.
> One who recites Durood Shareef one thousand times on a Friday, will most certainly see his abode in Jannah before death.

9. Reciting the Qur’aan Shareef daily in one’s home.
> Rasulullah has said that the house wherein there is no tilaawat of the Qur’aan is like a desolate house.
> The virtue of the kalaam of Allah Ta’ala over all the other kalaam is like the virtue of Allah Ta’ala over all His creation.

10. Recite the following dua when in shopping centres:

لاَ اِلهَ اِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ
وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

> Whosoever recites the above dua will receive 1 million rewards, 1 million of his sins will be forgiven and his ranks will be raised a million times in Jannah. Furthermore a palace will be built for him in Jannah.

Note: Rasulullah has said: “The best of places in the sight of Allah Ta’ala are the masaajid and the worst of places in the sight of Allâh Ta’ala are the shopping centers.”

Friday, 15 January 2010

SALAM?? ADAT ATAU IBADAH..??


Sesungguhnya salam itu merupakan sunnah terdahulu sejak zaman Nabi Adam ‘alaihi salam sehingga ke hari kiamat, dan salam merupakan ucapan para penghuni syurga, Dan ucapan mereka di dalamnya adalah salam. Salam merupakan sunnah para Nabi, tabiat orang-orang yang bertakwa dan semboyan orang-orang yang suci. Namun, dewasa ini, benar-benar telah terjadi kekejian yang nyata dan perpecahan yang terang di tengah-tengah kaum muslimin! Jikalau engkau melihat mereka, ada saudara semuslim yang melintasi mereka, mereka tidak mengucapkan salam kepadanya. Sebahagian lagi hanya mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenalinya sahaja, bahkan mereka merasa aneh ketika ada orang yang tidak dikenalinya memberi salam kepadanya, mereka mengingkarinya dengan menyatakan “Apakah anda mengenali saya?”.



Sedangkan yang sedemikian itu merupakan penyelisihan terhadap perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga menyebabkan semakin menjauhnya hati-hati mereka, semakin merebaknya perangai-perangai kasar dan semakin bertambahnya perpecahan. Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah kalian akan masuk syurga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian dikatakan beriman sehingga kalian saling mencintai. Mahukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian mengamalkannya nescaya kalian akan saling mencintai, iaitu tebarkan salam di antara kalian.” (HR Muslim).






Di dalam hadits Muttafaq ‘alaihi, ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam bagaimanakah yang baik?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali mahupun yang tidak engkau kenali.” (Muttafaq ‘alaihi).

Maka yang demikian ini merupakan suatu anjuran untuk menyebarkan salam di tengah-tengah kaum muslimin, dan bahawasanya salam itu tidaklah terbatas kepada orang yang engkau kenali dan sahabat-sahabatmu sahaja, namun untuk keseluruhan kaum muslimin.

Adalah Abdullah Ibnu 'Umar Radhiallahu ‘anhu pergi ke pasar pada pagi hari dan berkata : “Sesungguhnya kami pergi bertolak pada pagi hari adalah untuk menyebarkan salam, maka kami mengucapkan salam kepada siapa saja yang kami jumpai.”

Salam itu menunjukkan ketawadhu’an seorang muslim, ia juga menunjukkan kecintaan kepada saudaranya yang lain. Salam menggambarkan akan kebersihan hatinya daripada dengki, dendam, kebencian, kesombongan dan rasa memandang rendah kepada orang lain. Salam merupakan hak kaum muslimin antara satu dengan lainnya, ia merupakan sebab tercapainya rasa saling mengenali, bertautnya hati dan bertambahnya rasa kasih sayang serta kecintaan. Ia juga merupakan sebab diperolehnya kebaikan dan sebab untuk seseorang masuk syurga. Menyebarkan salam adalah salah satu bentuk menghidupkan sunnah Mustofa Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Lima perkara yang wajib bagi seorang muslim ke atas saudaranya, menjawab salam, mendo’akan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan menghantarkan jenazah.” (HR Muslim).

Wajib bagi sesiapa yang diberi salam menjawab dengan jawapan yang serupa sebagai bentuk ittiba’ terhadap perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abi Sa'id Al-Khudriy Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jauhilah oleh duduk-duduk di pinggir jalan!” mereka berkata, “Ya Rasulallah, kami tidak boleh meninggalkan majlis kami ini dan juga bercakap-cakap di dalamnya.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika engkau enggan meninggalkannya, maka berilah haknya jalan.” Mereka berkata, “Apakah haknya jalan itu wahai Rasulullah?” menjawab Rasulullah, “Mennundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, menjawab salam serta amar ma’ruf nahi munkar.” (Muttafaq ‘alaihi).

Imam Nawawi Rahimahullah berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya memulai salam itu adalah sunnah, dan membalasnya adalah wajib. Jika si pemberi salam itu jumlahnya ramai, maka yang demikian ini merupakan sunnah kifayah ke atas mereka, maksudnya jika sebahagian telah mengucapkan salam bererti mereka telah melaksanakan sunnah salam atas hak keseluruhan mereka. Jika yang diberi salam seorang diri, maka wajib ke atasnya menjawabnya. Jika yang diberi salam ramai, maka menjawabnya adalah fardhu kifayah atas hak mereka, maksudnya jika salah seorang daripada mereka telah menjawabnya maka gugurlah kewajipan bagi yang lainnya. Namun, yang lebih utama adalah memulai memberi salam secara bersama-sama dan menjawabnya dengan bersamaan pula.”


SIFAT SALAM

Berkata Imam Nawawi, “Ucapan salam minima dengan perkataan ‘assalamu’alaikum’, jika yang diberi salam seorang diri, maka minima dia mengucapkan ‘assalamu’alaika’, namun adalah lebih utama jika dia mengucapkannya dengan ‘assalamu’alaikum’, kerana kalimat ini mencakupi do’a bagi dirinya dan yang bersamanya (malaikat, pent.). Dan alangkah sempurna lagi dia menambahkan ‘warohmatullahi’ dan ‘wabarokatuh’, walaupun sebenarnya kalimat ‘assalamu’alaikum’ telah mencukupi.”


MENJAWAB SALAM

Imam Nawawi berkata, “Adapun cara membalas salam, lebih utama dan lebih sempurna jika mengucapkan ‘wa’alaikum as-Salam wa rohmatullahi wa barokatuh’, dengan menambahkan huruf ‘waw’ (yang mendahului kata ‘alaikum) ataupun tidak menggunakannya (membuangnya), hal ini diperbolehkan namun meninggalkan keutamaan. Adapun meringkaskannya menjadi ‘wa’alaikumus salam’ atau ‘alaikumus salam’ sahaja sudah mencukupi. Sedangkan meringkaskannya menjadi ‘alaikum’ sahaja, menurut kesepakatan ulama’ tidaklah mencukupi, demikian pula dengan ‘wa’alaikum’ sahaja yang diawali dengan huruf ‘waw’.


TINGKATAN SALAM

Salam memiliki 3 tingkatan, tingkatan yang paling tinggi, paling sempurna dan paling utama adalah ‘Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh’, kemudian yang lebih rendah daripadanya ucapan ‘assalamu’alaikum warohmatullah’ dan terakhir yang paling rendah adalah ‘assalamu’alaikum’. Seseorang yang mengucapkan salam (Musallim), boleh jadi mendapatkan ganjaran yang sempurna dan boleh jadi mendapatkan ganjaran di bawahnya, sesuai dengan salam yang dia ucapkan.” Hal ini sesuai dengan kisah tentang seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid dan saat itu Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya sedang duduk-duduk, berkata lelaki tadi, “Assalamu’alaikum”, maka Nabi menjawab, “wa’alaikumus salam, sepuluh atasmu”, kemudian masuk lelaki lain dan berkata, “Assalamu’alaikum warohmatullah”, Rasulullah menjawab, “Wa’alaikumus Salam warohmatullah, dua puluh atasmu”. Tidak lama kemudian datang lagi seorang lelaki sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum warohmaatullahi wabarokatuh”, maka jawab Rasulullah, “Wa’alaikumus Salam warohmatullahi wabarokatuh, tiga puluh atasmu”. (HR Abu Dawud dan Turmudzi), yang dimaksudkan adalah sepuluh, dua puluh dan tiga puluh kebaikan.


ADAB-ADAB SALAM

1. Disunnahkan tatkala bertemu dua jenis orang di jalan, iaitu orang yang berkenderaan supaya memberi salam kepada yang berjalan kaki, yang sedikit kepada yang ramai dan yang muda kepada yang tua. Bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Hendaklah salam bagi yang berkenderaan kepada pejalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk dan yang sedikit kepada yang ramai.” (HR. Muslim).

2. Sayogiyanya orang yang hendak memberikan salam kepada kaum muslimin dengan mengucapkan salam dan bukan dengan ucapan ‘selamat pagi’ atau ‘selamat datang’ ataupun ‘hello’, hendak dia memulainya dengan salam kemudian baru dia boleh menyambutnya dengan sapaan yang diperbolehkan di dalam Islam.

3. Disukai bagi seorang muslim yang akan masuk ke rumahnya, mengucapkan salam terlebih dahulu, kerana sesungguhnya berkah itu turun beserta salam, bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika engkau hendak masuk ke rumahmu, hendaklah engkau salam, nescaya berkah akan turun kepadamu dan keluargamu.” (HR Turmudzi). “Dan jika tidak ada seorangpun di dalamnya, maka ucapkan, Assalamu’alainaa ‘ibaadillahish shaalihin.” (HR Muslim).

4. Sayogiyanya mengucapkan salam itu dengan suara yang dapat didengar namun tidak mengganggu orang yang mendengar dan membangunkan orang yang tidur. Dari Miqdad Radhiallahu ‘anhu berkata : “Kami mengangkat untuk Nabi bahagiannya daripada susu, dan beliau tiba saat malam, mengucapkan salam dengan suara yang tidak membangunkan orang yang tidur dan dapat didengar oleh orang yang jaga.” (HR Muslim).

5. Dianjurkan untuk memberikan salam dan mengulanginya lagi jika terpisah daripada saudaranya, walaupun hanya dipisahkan oleh tembok. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Jika seseorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, hendaklah dia memberinya salam, dan jika terpisah antara keduanya oleh pohon, tembok ataupun batu besar lalu bertemu kembali, hendakla kalian mengucapkan salam lagi kepadanya.” (HR Abu Dawud).

6. Ramai ulama’ memperbolehkan seorang lelaki mengucapkan salam kepada seorang wanita, dan sebaliknya, selama aman daripada fitnah, sebagaimana seorang wanita mengucapkan salam kepada mahramnya, maka wajib juga atasnya untuk menjawab salam daripada mereka. Demikian halnya seorang laki-laki kepada mahramnya wajib atasnya menjawab salam dari mereka. Jika dia seorang ajnabiyah (wanita bukan mahram), maka tidaklah mengapa mengucapkan salam kepadanya ataupun membalas salamnya jika wanita tersebut yang mengucapkan salam, selama aman daripada fitnah, dengan syarat tanpa bersentuhan tangan/jabat tangan dan mendayu-dayukan suara.

7. Daripada hal-hal yang tersebar di kalangan manusia adalah menjadikan salam itu berbentuk isyarat atau memberi tanda dengan tangan. Jika seseorang yang mengucapkan salam itu jauh, maka mengucapkan salam sambil memberikan isyarat tidaklah mengapa, selama dia tidak dapat mendengarmu, kerana isyarat ketika itu menjadi penunjuk salam dan tidak ada pengganti selainnya, juga demikian dalam membalasnya.

8. Dianjurkan bagi orang yang duduk mengucapkan salam ketika dia hendak berdiri di dalam majlisnya. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika kalian mendatangi suatu majlis hendaklah memberi salam, dan jika hendak berdiri seyogiyanya juga memberi salam, dan tidaklah yang pertama itu lebih berhak daripada yang terakhir”. (HR. Abu Dawud)

9. Disunnahkan berjabat tangan ketika memberi salam dan memberikan tangannya kepada saudaranya. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah bertemu dua orang muslim kemudian berjabat tangan kecuali Allah akan mengampuni dosanya sebelum berpisah”. (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

10. Menunjukkan wajah yang ceria, bermanis muka dan tersenyum ketika salam. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Senyummu kepada saudaramu itu sedekah”, dan sabdanya pula “Janganlah engkau remehkan suatu kebajikan sedikitpun, walaupun hanya bermanis muka terhadap saudaramu”. (HR. Muslim)

11. Disunnahkan memberi salam kepada anak-anak sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sentiasa melakukannya, dan yang demikian ini adalah suatu hal yang menggembirakan mereka, menanamkan rasa percaya diri dan menumbuhkan semangat menuntut ilmu di dalam hati mereka.

12. Tidak diperbolehkan memulai salam kepada orang kafir sebagaimana di dalam sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah mendahului Yahudi dan Nasrani dengan ucapan salam, jika engkau menemui salah seorang daripada mereka di jalan, desaklah hingga mereka menepi dari jalan”. (HR. Muslim) dan bersabda pula Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika ahli kitab memberi salam kepadamu maka jawablah dengan wa’alaikum” (mutafaq alaihi).



TEMAN MUHASABAH HEWI 2010



SALAM SAHABAT SISWI SEKALIAN..ANDA SEMUA DI JEMPUT HADIR MENGIMARAHKAN PROGRAM INI..(^^,)

Thursday, 14 January 2010

Mari Ngaji agama...


Friday, 8 January 2010

5 tanda HATI keras membatu


Hati adalah sumber ilham dan pertimbangan, tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil, ketenangan dan kebimbangan. Hati juga sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya. Aktiviti yang dilakukan sering berpunca daripada lurus atau bengkoknya hati. Abu Hurairah r.a. berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya.. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya".

Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:

1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan

Terutama malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifatkan kaum munafikin dalam firman-Nya yang bermaksud, "Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (Surah At-Taubah, ayat 54)

2. Tidak berasa gerun dengan ayat al-Quran

Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali, tidak mahu khusyuk atau tunduk, dan juga lalai daripada membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling daripadanya. Sedangkan Allah S.W.T memberi ingatan yang ertinya, "Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman Ku." (Surah Al-Qaf, ayat 45)

3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat

Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-ma ta. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesama manusia hanya untuk urusan dunia sahaja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego dan individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.

4. Kurang mengagungkan Allah

Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah dilecehkan orang. Tidak mengamal yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

5. Tidak belajar dengan Ayat Kauniah

Tidak terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa yang dapat memberi pengajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan seumpamanya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai perkara biasa, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. "Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahawa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pe ajaran?" (Surah At-Taubah, ayat 126)


GEN-1 KKM??? MELETUS

1.Assalamualaikum saya ucapkan kepada seluruh mahasiswa UTM dan masih belum terlambat untuk saya mengucapkan Selamat Tahun Baru..

2.Pertama dan selama-lamanya,marilah sama kita melafazkan rasa syukur kepada ALlah atas segala nikmat yang tidak pernah putus walaupun sedetik kepada kita..Sama2lah kita menzahirkan rasa syukur dalam kehidupan seharian kita moga2 rahmat dan nikmat yang diberikan terus dapat kita kecapi bersama.

3.Sudah hampir sebulan berada di UTM,jujurnya saya merasakan masa begitu pantas memacu.Begitu banyak hal yang hendak direncanakan dan digerakkan oleh gen-1 sendiri tapi mungkin jalan masih belum terbuka seluasnya untuk melaksanakan rencana yang telah direncanakan.

4.Jesteru,saya memohon kepada semua ahli gen-1 supaya sama2 meerasakan satu tanggungjawab yang telah ALlah pikulkan kepada kita untuk kita sebarkan.Persoalannya???adakah kita bersedia @ xbersedia dengan tanggungjawab yang diberikan.Mungkin yang membaca entry ini boleh memberi komen dan insyaALlah,saya akan berkongsi satu lagi entry akan datang berkenaan persoalan yang saya berikan...

Friday, 1 January 2010

BERFESYENLAH ASALKAN MEMENUHI KEHENDAK SYARIAT!!!!!!


 

Ciri Pakaian Wanita Islam :~
  • Berdasarkan pendapat Jumhur Ulama', seluruh badan wajib ditutup kecuali muka  dan tapak tangan.
  • Material atau bahan yang digunakan untuk membuat pakaian BUKAN dari jenis yang jarang dan nipis sehingga menampakkan kulit si pemakai.
  • Pakaian wanita ISLAM tidak boleh menyerupai pakaian lelaki.
  • Tudung mestilah menutupi bahagian dada.
  • Pakaian longgar dan TIDAK KETAT.
  • Pakaian metilah TIDAK menampakkan bentuk tubuh.
  • Seelok-eloknya warna baju TIDAK TERLALU TERANG sehingga menarik perhatian umum.
  • Lengan baju hendaklah sehingga ke pergelangan tangan.
  • Kain mestilah labuh sehingga ke buku lali.
  • Jika berseluar pastikan baju dilabuhkan hingga menutupi bahagian punggung.
  • BERSTOKING


10 KESILAPAN WANITA MENGENAI AURAT...

Antara kesilapan wanita mengenai aurat :~
1) Aurat dianggap memakai tudung sahaja.
2) Bertudung tetapi ber' T-Shirt' berlengan pendek.
3) Bertudung tetapi baju kebarungnya terbelah kainnya.
4) Bertudung tetapi menayangkan jambul dan hujung rambutnya.
5) Bertudung tetapi bajunya sendat, sempit dan nipis lalu memaparkan bentuk kawasan-kawasan mudah 'menggoda'.
6) Bertudung tetapi hanya memakainya di pejabat sahaja. Tidak di sekitar rumah, pasaraya dan sebagainya.
7) Bertudung tetapi  tudungnya selempang/ dilemparkan  ke belakang leher, maka terdedahlah dadanya dari ditutupi kain tudung.
8) Bertudung tetapi dengan tudung yang amat nipis sehingga boleh dilihat sanggul, leher, tengkuk dan dadanya.
9) Bertudung tetapi menaiki motor sambil menayangkan betis sepanjang jalan. Diriwayatkan daam sebuah hadith :~
   
" ALLAH sentiasa merahmati para wanita yang memakai seluar panjang (di sebelah dalamnya) - (Riwayat Al-'Uqayli, Dar Qutni dari Abu Hurairah,Musannaf Abd Razak)

Menurut Imam Mujahid, hadith ini berlaku di satu ketika ada seorang wanita jatuh dari kenderaannya sehingga terselak kainnya di hadapan Nabi dan para Sahabat, maka dengan segera Nabi SAW memalingkan wajahnya, maka para sahabat berkata dia (wanita itu) memakai seluar. Lalu sebagai respond Rasulullah SAW memuji dan menyebut hadith di atas.


10)
Bertudung dan sempurna penutupan aurat tubuhnya tetapi memanja-manjakan suaranya ketika berintraksi dengan lelaki. 
Larangan ini datang dari firman ALLAH SWT : " Janganlah perempuan-perempuan itu berlemah-lemah dengan perkataannya, sebab akan menaruh harapan orang yang dalam hatinya ada penyakit."

 

Mengapa mesti menutup AURAT????

 

Berdasarkan dalil Al-Quran dan Al-Hadith, amat jelas bahawa isu aurat bukanlah masalah remeh. Malah ia merupakan salah satu dosa utama yang amat diperjuangkan oleh syaitan. Kerana, dengan terbukanya aurat, maka ia boleh mencambahkan dosa-dosa lain seperti zina, mengandung anak luar nikah, bercerai suami isteri akibat curang, membunuh anak luar nikah, putuskan hubungan keluarga dan pelbagai.

    Perihal Syaitan mensasarkan dosa "buka aurat" ini sebagai agenda utamanya ada disebutkan dalam Al-Quran dari firman ALLAH ertinya :~
    " Maka syaitan membisikkan fikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya yang tertutup dari mereka iaitu auratnya.." (Al-A'raf : 20)

    Tujuan utama diwajibkan umat islam lelaki dan wanita untuk menutup aurat adalah :~
a) Perbezaan dengan binatang.
    Allah SWT berfirman : "Wahai anak Adam, telah kami turunkan buat kamu         pakaian yang boleh menutup aurat-aurat kamu... (Al-A'raf : 26)
    Amat jelas dari ayat ini, penutupan aurat ditujukan kepada sesiapa sahaja yang termasuk dalam kategori anak Adam iaitu manusia. Justeru barangsiapa yang berpaling dari arahan ini, secara langsung ia menjatuhkan tahapnya selari dengan binatang yang tidak cukup kemampuan dan akal bagi menjalankan arahan penutupan aurat.
b) Agar kaum wanita tidak disakiti.
    Ia bersandarkan firman Allah SWT dari surah Al-Ahzab ayat 59. "....hendaklah mereka melabuhkan jilbab-jilbab mereka atas (muka-muka) mereka. Yang demikian itu lebih memastikan mereka agar dikenali (sebagai wanita ISLAM) supaya mereka tidak diganggu."
c) Tanda atau seperti uniform kepada penganut agama islam.
    Ia juga boleh difahami dari surah Al-Ahzab ayat 59 apabila ALLAH SWT menyebut "....yang demikian itu lebih memastikan mereka agar dikenali (sebagai wanita ISLAM)..."
d) Tanda profesionalism dalam sistem pemakaian ISLAM.
Kita dapat memerhati bagaimana "trend" sesebuah organisasi atau restoran hebat hari ini pasti meletakkan "dress code" tertentu bagi kakitangannya. Ia pastinya bertujuan penjagaan standard khas bagi organisasi dan restoran itu. Sebagai contoh, kita tidak akan dapat melihat individu berselipar Jepun di sebuah Persidangan Antarabangsa di PICC, Putrajaya mahupun di kalangan kakitangan PETRONAS di pejabat mereka di Menara Berkembar. Semua menjkaga "standard" berbanding Tauke kedai runcit yang tidak beruniform.
Justeru ISLAM adalah satu agama dan cara hidup yang profesional pastinya begitu lengkap menyediakan panduan melengkapi setiap sudut kehidupan manusia.